Friday, 20 January 2017
by Ranto
02:47
Kadang aku harus membenci malam, bukan saja karena ia merebutmu dariku, lebih dari itu karena malam pula yang menyelimutiku ketika langit menelan senja. Sedih memang, belum lagi ketika rindu mulai menyerang. Ah, ingin kubunuh saja malam, ingin rasanya kucabik-cabik saja hingga ia tak pernah kembali datang.
Namun, bukanlah hal yang bijak ketika aku harus mengutuk malam, hampir tak sadar aku diantara malam masih ada bintang, masih ada rembulan, masih ada seseorang untuk dirindukan. Andai saja ia berada disampingku, ingin sekali kubuat cemburu malam, sebab ialah milikku selama malam menjelang.
Yogyakarta, Januari 2017
Thursday, 19 January 2017
by Ranto
06:58
Pagi ini aku masih memandang langit yang sama. Namun sepi hati ini menyamar seketika datangnya riuh hujan. Aku berdiri, memandang kejauhan di balik jendela kamar seraya menikmati kopi dalam sebuah cangkir. Ah, memang beda dari biasanya.
Aku termenung, menyadari bahwa waktu telah banyak berlalu. Sekeping kenangan tetiba terlintas dalam benakku tentang seorang gadis dalam bingkai hujan. Aku terduduk dibawah naungan awan, tak peduli peluru langit berkali-kali menghujam tubuhku. Aku hanya bisa terdiam di balik serpihan rindu yang kian buram.
Sesaat setelah aku menundukkan wajahku dalam kepiluan, terasa hujan berhenti seketika itu juga. Aku memalingkan wajahku, kulihat sepintas seorang gadis berdiri tepat disampingku. Buraian senyum berseri sejenak terpenjara dalam tatapku, sebelum aku benar-benar kembali tenggelam, kembali menundukkan wajahku dalam kesedihan yang teramat.
"Ambillah payung ini untuk melindungimu dari terpaan hujan..!", katamu seraya mengulurkan payung dalam genggaman tanganmu.
Aku tetap saja menghiraukannya, bahkan untuk sekadar memalingkan wajah pun terasa berat. Hingga akhirnya kusadari ia sudah duduk disampingku, dalam dengan payung yang masih tergenggam dalam tangannya, menaungi kami berdua. Kini aku memandangnya dengan penuh tatapan hampa, tapi selalu saja ia membalas dengan senyum yang penuh makna.
"Aku ingin sakit dalam hujan, biarlah air melarutkankuku dalam kesedihan", kataku dengan putus asa.
“Jangannlah kau menjadikan hujan sebagai wujud kesedihanmu, berbahagialah karena datangnya hujan”
“Kini aku sudah kehilangan jiwaku dalam balutan hujan, kehilangan hatiku dalam risaunya awan”, kataku sesaat setelah kembali menundukkan wajahku.
“Hujan adalah anugerah dari yang dilangit untuk semua makhluk yang di bumi. Hujan selalu mengajarkan betapa sangat berharganya ia, hujan mengajarkan sebuah harapan, sebuah kerinduan. Lihatlah disekelilingmu, bagaimana ranting dan dahan menari menyambut datangnya hujan, melahirkan harapan untuk tetap hidup, sebuah kerinduan untuk tetap bahagia”,
Aku masih saja terdiam cukup lama, mencoba mengerti setiap kata yang keluar dari bibir manisnya, sampai akhirnya angin kecil membelah diamku. Iapun pasrah ketika sang angin membawa pergi payung yang menaungi kami, ia kembali tersenyum dan menyandarkan dirinya ke bahuku. Aku menoleh pelan, namun ia hanya membalas denga senyuman.
“Kita adalah kata yang telah usai, usahlah kau bermurung dengan hujan. Kuharap hadirku serupa hujan, dan kaulah ranting dan dahan itu. Nikmatilah hujan bersamaku, bersama ranting dan dahan yang menari, bukan bersama kemuraman dan kesakitan”
Ia melingkarkan tangannya memeluk erat tubuhku, kurasakan kehangatan diantara hujan. Sejenak aku berfikir, mungkinkah ini harapan yang hujan ajarkan padaku? Aku merasakan jiwaku perlahan kembali, Tak sengaja pandanganku berpadu dengan sayu mata yang diiringi senyum yang tak pernah lepas.
***
Kuhirup kembali aroma secangkir kopi pagiku, kunikmati kenangan yang terlintas bersama hujan, tanpa dirinya gadis dalam bingkai hujan. Sejenak kupalingkan pandangku terhadapmu yang masih terpulas dengan senyum tersirat, terlihat sama seperti saat hujan waktu itu. Ah, dasar gadis dalam bingkai hujan, kau memang selalu membuatku mengerti tentang harapan serta kebahagiaan. Dan aku benar-benar merindukanmu.
Yogyakarta, Januari 2017
Monday, 21 December 2015
by Ranto
12:50
"Anjing ingin selalu bebas walaupun sejatinya ia terikat, sedangkan manusia mengikat dirinya sendiri walaupun sejatinya ia bebas"
Pernahkah mendengar pepatah di atas? Tersinggungkah ketika kita sebagai manusia di sejajarkan dengan seekor anjing? Manusia di beri akal, manusia di beri kebebasan (walaupun sebenarnya bukan kebebasan seutuhnya, masih ada agama yang mengatur kebebasan tersebut, namun kebebasan yang saya maksud adalah kebebasan di luar konteks ini), tetapi masih banyak dari mereka lebih memilih untuk mengikat dirinya sendiri secara tidak langsung dari dunia yang seharusnya ia jalani.
Hidup memang sebuah pilihan. Ya, saya sendiri setuju dengan hal tersebut. Namun, ketika dijatuhkan pada beberapa opsi, tentu kita akan memutuskan salah satu yang terbaik dari opsi tersebut. Namun, ketika kita memutuskan tanpa mempertimbangkan resiko, masihkah bisa disebut keputusan? ataukah hanya sekadar pilihan dengan seenaknya menunjuk seperti bayi yang merengek pada ibunya sambil menunjuk jarinya ketika meminta sesuatu?
"Manusia merupakan bagian hidup dari orang lain"
Teringat ketika saya berkumpul dengan orang yang menjadi salah satu tokoh masyarakat, ia berkata, "manusia merupakan bagian hidup dari orang lain". Untuk membuktikannya cukup mudah, tinggalkan saja seorang diri di hutan dengan dicukupkan semua kebutuhannya. Kemungkinan besar ia akan mati disana, bukan karena hewan buas, melainkan dari dirinya sendiri. Stress. Itu akan cukup membuktikan bahwa manusia tak bisa hidup tanpa orang lain.
Manusia diciptakan untuk bersosial, berkumpul, saling membantu, saling menghargai. Ketika ia mencoba untuk menghindari hal tersebut, maka secara tidak langsung kita membatasi diri kita sendiri. Memenjarakan diri dalam sebuah jeruji tak kasat mata namun sejatinya begitu nyata dengan meninggalkan kodrat sebagai manusia yang seutuhnya. Banyak contoh sederhana yang dapat kita ambil dari kehidupan sehari-hari, namun kembali lagi bahwa hidup adalah pilihan -atau sebuah keputusan-
#siang bolong ngelantur
Yogyakarta, 21 Desember 2015
Sunday, 20 December 2015
by Ranto
18:58
Lama sudah aku tak menulis di tempat ini, masih saja gersang seperti sebelumnya. Walaupun aku sering menulis untuk keperluan lain, sepertinya lama pula aku tak mengisi rumah ini dengan kata-kata. Hampir tak ada yang berubah semenjak aku terakhir mengais asa dengan kata di dalam rumah ini, kecuali umurku yang sudah cukup bermassa dari sebelumnya.
Kesibukan seperti biasa, walapun berada didepan layar aku hampir melupakan rumahku yang satu ini. Tempat segala aku untuk mencurahkan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata, namun dengan tulisan cukup membantu untuk mengurangi bebannya. Yah, memang malam ini masih sama seperti malam sebelumnya, hujan disertai dingin yang menyelimuti. Hanya kekosongan yang ada diantaranya.
Bodoh. Bisa dibilang demikian. Seperti drama. Bisa juga dibilang demikian. Masih berkutat pada gadis yang sama semenjak satu setengah tahun yang lalu. Tepat satu setengah tahun saat ulang tahunku aku bertemu dengannya. Dia masih saja sama, masih seperti dulu, masih diselimuti dengan beberapa pertanyaan yang belum pernah dijawabnya semenjak aku bertemu.
Setiap aku memulai kisahku, pasti akan kembali dengannya. Pertanyaan sederhana itu akan selalu muncul, namun aku tak pernah mengerti akan dirinya. Sekarang, pikiranku sudah tak seperti dulu, walaupun hatiku berkata sebaliknya. Entah sampai kapan berakhir. Andai saja malam ini tak seperti malam sebelumnya, mungkin aku akan tenggelam dalam kesepeianku. Entah sampai kapan.
dari aku yang selalu merindukanmu
Yogyakarta, 20 Desember 2015
Thursday, 5 March 2015
by Ranto
18:25
Rintik hujan malam ini kembali menyapaku, sempat aku merindukanmu. Seperti kemarin. Seperti ribuan malam yang merindukan satu bintang, walaupun bintang itu tak pernah datang. Mungkinkah aku harus seperii malam itu, menolak hadirnya pagi untuk sebuah bintang? Entahlah.
Malam ini aku terdukuk menatap langit, menyaksikan butiran-butiran air mata bulan membasahi rindu. Ingin rasanya kau bersanding bersamaku, bercerita tentang aku, tentang kau, tentang kita. Ataukah tentang awan yang tak sempat menyampaikan maafnya kepada langit hingga bulan pun ikut berpaling.
Malam ini pula aku merindukan sosok yang begitu sederhana. Sesederhana bait puisi tanpa kata. Hanya abjad demi abjad hampa yang menunggu untuk disusun bersama. Kau tahu, aku berharap bahwa sajak itu adalah do'a yang dirangkai untuk hidup bersama, yang tertulis di masing-masing hati kita.
Melalui sepucuk surat singkat ini, ingin sekali kusampaikan pula salam rindu padamu. Semenjak aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya, hatiku memilihmu untuk mengisi bilik-biliknya yang kian kosong. Sempat aku hampir menolak bayangmu, namun entah mengapa aku semakin mengharap hadirmu.
Mungkinkah Tuhan berkehendak dengan memberikan jalan yang berbeda agar aku mengerti apa yang Tuhan rencanakan padaku? Ataukah itu semua hanya akan berahir menjadi sebuah kenangan? Entahlah, hanya saja ada hal yang lebih bijak daripada mengutuk kenangan, yaitu membuat cerita yang lebih indah selagi bersamamu.
Yogyakarta, 5 maret 2015
Dari seorang yang merindukanmu
Tuesday, 10 February 2015
Saturday, 7 February 2015
by Ranto
12:34
Sunday, 25 January 2015
by Ranto
12:36
Tuesday, 13 January 2015
by Ranto
12:38
Sejenak kau mengulurkan tangan, menengadah untuk mengumpulkan rintik air di antara lekukan telapak tanganmu yang begitu mungil.
"Hujan...", katamu dengan lirih.
"Ya, bukankah mereka menemani kita sejak tadi", jawabku dengan sedikit muram.
"Ah, kau ini. Dirimu tak pernah memahami kehidupan, tak pernah mau belajar dari alam".
"Maksudmu...?", tanyaku dengan bingung.
"Sungguh ada makna dibalik hujan. Lihatlah betapa ikhlasnya hujan. Ia rela kemanapun diutus, ia akan tetap mengalir dan memberikan kehidupan, dan akhirnya ia akan kembali ke tempat ia berasal."
"Aku mulai tak mengerti apa yang kau bicarakan..."
"Jikalau hujan saja ingin memberi manfaat kepada setiap makhluk, memberikan kehidupan, apalagi manusia.? Janganlah kau bermuram, belajarlah dari hujan."
Aku mengarahkan pandanganku padanmu, dan tak lama kaupun mebalas dengan sedikit senyum.
"Manusia serupa hujan, Ia harus tetap mengalir dan bermanfaat bagi orang lain, Ikhlas, tapi tak lupa darimana ia berasal. Janganlah kau sesali datangnya hujan, tapi bahagialah karenanya"
Sejenak aku terdiam mendengar perkataanmu itu. Kuulurkan tanganku mengikuti tanganmu yang sedari tadi mengumpulkan butir-butir kehidupan itu. Ku nikmati dan kurasakan kehidupan yang berkumpul dalam telapak tanganku itu, sejuk memang. dan mungkin itulah buah keikhlasan yang dapat aku rasakan untuk saat ini.
Diantara Hujan dan Air Mata Kehidupan
13 Januari 2013
Monday, 12 January 2015
by Ranto
12:39
"janganlah engkau menceritakan keindahan yang kau lihat tadi, kau tak melihat apa yang ada dibalik itu semua. Cobalah kau lihat kembali, betapa ikhlasnya langit yang rela menjadi gelap hanya untuk menjadikan bulan lebih terang dan indah, pernahkah engkau memujinya?"
"tidak...", jawabku
"seperti itulah, bahwa yang menjadikan keindahan itu adalah keikhlasan. Setiap kau menjalani apapun dengan ikhlas, maka keindahan yang akan engkau dapat..."
Semenjak itulah aku menyadari, walaupun hatimu tertutup seperti purnama itu, namun masih saja terlihat menawan. Bahkan melebihi purnama yang begitu terang.
Tuesday, 6 January 2015
by Ranto
12:40
Monday, 22 December 2014
by Ranto
16:28
Jikalau rindu bukan bermuara dari Sang Maha Cinta, dengan air mata mana lagi kau basuh luka yang menganga? Ataukah dengan deretan indah kata yang dirangkai pujangga? Yang ada hanya luka yang semakin dalam, yang kemudian menenggelamkan kita dalam kesedihan.
Tanpa keagungan-Nya, tak mungkin kita mampu menyulam hati yang gersang menunggu hujan. Tak mungkin kita merasakan desir angin yang menyapa pengunungan, yang menyampaikan salamnya melaui riuh nyanyian ribuan pinus. Begitulah kasihn-Nya kepada kita, mengalir lembut, damai dan tenang sekaligus menyejukkan.
Mereka yang bijak mengatakan bahwa hakikat cinta sejati adalah melepaskan. Maka cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku. Bukankah masih ada do’a yang terperanjat dalam diam? Do’a dimana selalu terselip sebuah nama ketika dalam keheningan kupanjatkan. Do’a yang akhirnya bermuara kepada Sang Maha Cinta.
Pernah aku mendengar Lantunan ayat Seorang sahabat, “Fa biayyi ala irobbikuma tukadzdziban”. Maka Nikmat Tuhan yang Manakah yang Kamu Dustakan? Bukankah Rindu itu adalah sebuah Nikmat yang tak seharusnya kita dustakan di mana ia Bermuara? Semoga kelak, Syahdu ayat ini mengiringi sebuah do’a suci yang menggabungkan dua keluarga dalam satu ikatan.
Yogyakarta, 22 Desember 2014
Monday, 15 December 2014
by Ranto
13:10
Tuesday, 11 November 2014
by Ranto
19:00
Ya, sejatinya pertemuan adalah perpisahan. Bagaimanapun sebuah pertemuan akan diakhiri oleh perpisahan. Namun di bagian akhir itulah bagaimana kita menyikapi sebuah pertemuan. Banyak yang berpendapat bahwa sebuah perpisahan adalah menyakitkan. Namun, cobalah kita untuk berfikir ulang untuk hal itu.
Apa yang menyebabkan perasaan yang menyakitkan ketika terjadi perpisahan? Bukankan hal itu adalah dari diri kita sendiri? Ketika terjadi perpisahan kita hanya sekedar "melupakan" bukan merelakan. Kita akan mencoba melupakan kenangan-kenangan kebahagiaan yang terbentuk sewaktu bersama, sejatinya kita mengingat kembali kenangan tersebut.
Namun, hal yang akan kita rasakan berbeda ketika perpisahan itu kita relakan. Biarkan saja kenangan itu lenyap bersama perpisahan, biarkan saja ia hanyut secara perlahan hilang bersama perpisahan. Dan itulah yang ku rasakan sekarang, ketika aku mengharap kebahagiaan saat pertemuan, aku harus mencoba "merelakan" sebuah kenangan hanyut perlahan, namun tanpa perpisahan
Di rumah kenangan
Selepas gerimis diatas senja
Yogyakarta, 11 November 2014
Thursday, 6 November 2014
by Ranto
02:50
Malam ini tak sengaja purnama menyapaku, tetiba saja aku teramat merindukanmu. Aku teringat sebuah kenangan, ketika aku bersama seseorang, menunggu sang purnama selepas senja. Samar memang. Hingga terkadang aku lebih memilih untuk mencuri pandang untuk melihat senyumnya daripada menanti celah rembulan. Tak kupungkiri, senyumnya begitu ikhlas ketika mengharap rembulan yang tak kunjung datang, sebuah simbol kebahagiaan dari seorang yang sederhana, yang tersirat begitu rapinya.
Seperangkat besi tua, saksi tak bernyawa ketika aku duduk berdampingan bersamanya, bercerita tentang aku, tentang dia, tentang sesuatu yang menyimpul senyum kami berdua. Ya, hari itu teramat istimewa bagiku, terutama ketika aku menerka-nerka sebuah keajaiban yang selalu ku dambakan akan segera terwujud. Hanya saja, Tuhan berkehendak dengan memberikan jalan yang berbeda agar aku mengerti apa yang Tuhan rencanakan padaku.
Dari sanalah terwujud sebuah kenangan, memang tak mampu aku untuk mengulangnya, tapi aku masih bisa mengulang kebahagiaannya. Ketika hening mataku terpejam, dan kebahagiaan yang kuharapkan dari sebuah kenangan bengitu nyata, walaupun ku sadari, semua itu hanyalah ilusi semata. Entah apa yang kau isyaratkan di balik senyummu waktu itu. Namun aku merasakan senyummu begitu hangat, bahkan ketika dirimu tersenyum sambil memandangku. Yang kuingat, bahwa waktu itu tak sengaja pandangan kita saling beradu.
Entah mengapa kini aku hanya bisa berharap dan berdo'a agar Tuhan tak serta merta menghapus kenangan itu dari hidupku. Aku yakin Tuhan adalah Maha Pendengar bagi hamba-hambanya yang dengan ikhlas berdo'a. Hanya saja, terkadang aku beku ketika aku bertemu denganmu, seluruh tubuhku terasa kaku. Tapi kamu tak perlu kamu khawatir, mungkin itu hanyalah bentuk suara hati yang tek rela atas sebuah realita.
Dibalik Purnama Malam-Mu,
Yogyakarta, 6 November 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)














