Top Ad 728x90

Tuesday, 13 January 2015

Aku dan Hujan



Suatu ketika pernah kita duduk berdampingan ketika menunggu hujan yang tak kunjung reda. Bak ribuan peluru yang menghantam, butir-butir air itu tak henti-hentinya menghujani sebuah rindu yang kerontang. Bau tanah yang basah itu samar-samar menghanyutkanku dalam perasaan yang semakin dalam. Perasaan yang begitu absurd, berpadu dengan tatapan kosong tanpa harapan.
Sejenak kau mengulurkan tangan, menengadah untuk mengumpulkan rintik air di antara lekukan telapak tanganmu yang begitu mungil.
"Hujan...", katamu dengan lirih.
"Ya, bukankah mereka menemani kita sejak tadi", jawabku dengan sedikit muram.
"Ah, kau ini. Dirimu tak pernah memahami kehidupan, tak pernah mau belajar dari alam".
"Maksudmu...?", tanyaku dengan bingung.
"Sungguh ada makna dibalik hujan. Lihatlah betapa ikhlasnya hujan. Ia rela kemanapun diutus, ia akan tetap mengalir dan memberikan kehidupan, dan akhirnya ia akan kembali ke tempat ia berasal."
"Aku mulai tak mengerti apa yang kau bicarakan..."
"Jikalau hujan saja ingin memberi manfaat kepada setiap makhluk, memberikan kehidupan, apalagi manusia.? Janganlah kau bermuram, belajarlah dari hujan."
Aku mengarahkan pandanganku padanmu, dan tak lama kaupun mebalas dengan sedikit senyum.
"Manusia serupa hujan, Ia harus tetap mengalir dan bermanfaat bagi orang lain, Ikhlas, tapi tak lupa darimana ia berasal. Janganlah kau sesali datangnya hujan, tapi bahagialah karenanya"
Sejenak aku terdiam mendengar perkataanmu itu. Kuulurkan tanganku mengikuti tanganmu yang sedari tadi mengumpulkan butir-butir kehidupan itu. Ku nikmati dan kurasakan kehidupan yang berkumpul dalam telapak tanganku itu, sejuk memang. dan mungkin itulah buah keikhlasan yang dapat aku rasakan untuk saat ini.
Diantara Hujan dan Air Mata Kehidupan

13 Januari 2013


0 komentar:

Post a Comment

Top Ad 728x90