Top Ad 728x90

Monday, 22 December 2014

RINDU

by

Sungguh suatu nikmat yang luar biasa ketika Tuhan menghadiahkan kepada hati kita masing-masing sebuah rindu. Sebuah kado kecil yang hampir tak ternilai harganya, yang selalu mengingatkan kita kepada Sang Maha Pencipta. Yang mengajarkan kita, bahwa muara Rindu adalah Sang Maha Cinta.

Jikalau rindu bukan bermuara dari Sang Maha Cinta, dengan air mata mana lagi kau basuh luka yang menganga? Ataukah dengan deretan indah kata yang dirangkai pujangga? Yang ada hanya luka yang semakin dalam, yang kemudian menenggelamkan kita dalam kesedihan.

Tanpa keagungan-Nya, tak mungkin kita mampu menyulam hati yang gersang menunggu hujan. Tak mungkin kita merasakan desir angin yang menyapa pengunungan, yang menyampaikan salamnya melaui riuh nyanyian ribuan pinus. Begitulah kasihn-Nya kepada kita, mengalir lembut, damai dan tenang sekaligus menyejukkan.

Mereka yang bijak mengatakan bahwa hakikat cinta sejati adalah melepaskan. Maka cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku. Bukankah masih ada do’a yang terperanjat dalam diam? Do’a dimana selalu terselip sebuah nama ketika dalam keheningan kupanjatkan. Do’a yang akhirnya bermuara kepada Sang Maha Cinta.

Pernah aku mendengar Lantunan ayat Seorang sahabat, “Fa biayyi ala irobbikuma tukadzdziban”. Maka Nikmat Tuhan yang Manakah yang Kamu Dustakan? Bukankah Rindu itu adalah sebuah Nikmat yang tak seharusnya kita dustakan di mana ia Bermuara? Semoga kelak, Syahdu ayat ini mengiringi sebuah do’a suci yang menggabungkan dua keluarga dalam satu ikatan.

Yogyakarta, 22 Desember 2014


Monday, 15 December 2014

RINDU MALAM

by

Malam, aku rindu ketika bintang-bintang hadir bersamamu menemuiku. Terlebih ketika beberapa kali awan merebutnya darimu. Maaf, karena aku selalu merindukanmu bersama bintang. Bahkan ketika bulan purnama cemburu kepada bintang untuk bersamamu. Malam aku ingin bertanya padamu, masih adakah hati yang berhembus bersama angin kemudian hinggap kepada pemilik rindu? Aku tahu, aku hanya pemilik rindu yang mengharapkan hati itu. Tak mampu rasanya aku menahan hujam rindu yang tajam. Malam, bolehkah aku bercerita tentang besarnya rinduku tentang seseorang? Tentang senyum manis yang selalu merekah dari wajahnya? Ingin sekali aku untuk menggambarkan indah wajahnya pada langit, agar ia mengerti betapa lebih indah ajahnya daripada bintang yang menemaninya.


Tuesday, 11 November 2014

Pertemuan

by

Apa yang kau inginkan dari sebuah pertemuan? Mungkin sebagian dari kita akan akan terdiam sejenak untuk berfikir tentang sebuah pertemuan. Bagaimana jika jawaban yang dilontarkan adalah "perpisahan"? Perpisahan, sesuatu hal yang tentu sangat menyakitkan yang pasti akan ditemui, meski yang kita harapkan adalah sebuah kebahagiaan. 

Ya, sejatinya pertemuan adalah perpisahan. Bagaimanapun sebuah pertemuan akan diakhiri oleh perpisahan. Namun di bagian akhir itulah bagaimana kita menyikapi sebuah pertemuan. Banyak yang berpendapat bahwa sebuah perpisahan adalah menyakitkan. Namun, cobalah kita untuk berfikir ulang untuk hal itu. 

Apa yang menyebabkan perasaan yang menyakitkan ketika terjadi perpisahan? Bukankan hal itu adalah dari diri kita sendiri? Ketika terjadi perpisahan kita hanya sekedar "melupakan" bukan merelakan. Kita akan mencoba melupakan kenangan-kenangan kebahagiaan yang terbentuk sewaktu bersama, sejatinya kita mengingat kembali kenangan tersebut. 

Namun, hal yang akan kita rasakan berbeda ketika perpisahan itu kita relakan. Biarkan saja kenangan itu lenyap bersama perpisahan, biarkan saja ia hanyut secara perlahan hilang bersama perpisahan. Dan itulah yang ku rasakan sekarang, ketika aku mengharap kebahagiaan saat pertemuan, aku harus mencoba "merelakan" sebuah kenangan hanyut perlahan, namun tanpa perpisahan

Di rumah kenangan
Selepas gerimis diatas senja
Yogyakarta, 11 November 2014



Thursday, 6 November 2014

Kenangan

by

Malam ini tak sengaja purnama menyapaku, tetiba saja aku teramat merindukanmu. Aku teringat sebuah kenangan, ketika aku bersama seseorang, menunggu sang purnama selepas senja. Samar memang. Hingga terkadang aku lebih memilih untuk mencuri pandang untuk melihat senyumnya daripada menanti celah rembulan. Tak kupungkiri, senyumnya begitu ikhlas ketika mengharap rembulan yang tak kunjung datang, sebuah simbol kebahagiaan dari seorang yang sederhana, yang tersirat begitu rapinya. 

Seperangkat besi tua, saksi tak bernyawa ketika aku duduk berdampingan bersamanya, bercerita tentang aku, tentang dia, tentang sesuatu yang menyimpul senyum kami berdua. Ya, hari itu teramat istimewa bagiku, terutama ketika aku menerka-nerka sebuah keajaiban yang selalu ku dambakan akan segera terwujud. Hanya saja, Tuhan berkehendak dengan memberikan jalan yang berbeda agar aku mengerti apa yang Tuhan rencanakan padaku. 

Dari sanalah terwujud sebuah kenangan, memang tak mampu aku untuk mengulangnya, tapi aku masih bisa mengulang kebahagiaannya. Ketika hening mataku terpejam, dan kebahagiaan yang kuharapkan dari sebuah kenangan bengitu nyata, walaupun ku sadari, semua itu hanyalah ilusi semata. Entah apa yang kau isyaratkan di balik senyummu waktu itu. Namun aku merasakan senyummu begitu hangat, bahkan ketika dirimu tersenyum sambil memandangku. Yang kuingat, bahwa waktu itu tak sengaja pandangan kita saling beradu.

Entah mengapa kini aku hanya bisa berharap dan berdo'a agar Tuhan tak serta merta menghapus kenangan itu dari hidupku. Aku yakin Tuhan adalah Maha Pendengar bagi hamba-hambanya yang dengan ikhlas berdo'a. Hanya saja, terkadang aku beku ketika aku bertemu denganmu, seluruh tubuhku terasa kaku. Tapi kamu tak perlu kamu khawatir, mungkin itu hanyalah bentuk suara hati yang tek rela atas sebuah realita.

Dibalik Purnama Malam-Mu,

Yogyakarta, 6 November 2014

Top Ad 728x90