Pagi ini, jiwaku sudah mulai usang didera waktu. Sekujur tubuhku kaku, sangat, bahkan tak sempat ku ucapkan sepatah kata dari mulutku. Jiwa yang dulu liar, kini hilang menunggu matinya sepi. Lengkung harapan kini mulai memudar, menanti senja tiada kabar.
Aku selalu menitipkan namamu pada mentari yang menyala menjelang tidurku. Di kala sang Pencipta menggoreskan kuasnya di langit berarak awan diantara langit yang rupawan. Agar kau tahu, bahwa namamu seindah lukisan senja itu, dan aku berharap dirimu selalu menyambutku bersama kembalinya mentari, ketika saja aku terbangun dari mimpiku.