Thursday, 5 March 2015
by Ranto
18:25
Rintik hujan malam ini kembali menyapaku, sempat aku merindukanmu. Seperti kemarin. Seperti ribuan malam yang merindukan satu bintang, walaupun bintang itu tak pernah datang. Mungkinkah aku harus seperii malam itu, menolak hadirnya pagi untuk sebuah bintang? Entahlah.
Malam ini aku terdukuk menatap langit, menyaksikan butiran-butiran air mata bulan membasahi rindu. Ingin rasanya kau bersanding bersamaku, bercerita tentang aku, tentang kau, tentang kita. Ataukah tentang awan yang tak sempat menyampaikan maafnya kepada langit hingga bulan pun ikut berpaling.
Malam ini pula aku merindukan sosok yang begitu sederhana. Sesederhana bait puisi tanpa kata. Hanya abjad demi abjad hampa yang menunggu untuk disusun bersama. Kau tahu, aku berharap bahwa sajak itu adalah do'a yang dirangkai untuk hidup bersama, yang tertulis di masing-masing hati kita.
Melalui sepucuk surat singkat ini, ingin sekali kusampaikan pula salam rindu padamu. Semenjak aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya, hatiku memilihmu untuk mengisi bilik-biliknya yang kian kosong. Sempat aku hampir menolak bayangmu, namun entah mengapa aku semakin mengharap hadirmu.
Mungkinkah Tuhan berkehendak dengan memberikan jalan yang berbeda agar aku mengerti apa yang Tuhan rencanakan padaku? Ataukah itu semua hanya akan berahir menjadi sebuah kenangan? Entahlah, hanya saja ada hal yang lebih bijak daripada mengutuk kenangan, yaitu membuat cerita yang lebih indah selagi bersamamu.
Yogyakarta, 5 maret 2015
Dari seorang yang merindukanmu
Subscribe to:
Posts (Atom)
