Top Ad 728x90

Thursday, 19 January 2017

Gadis Dalam Bingkai Hujan


Pagi ini aku masih memandang langit yang sama. Namun sepi hati ini menyamar seketika datangnya riuh hujan. Aku berdiri, memandang kejauhan di balik jendela kamar seraya menikmati kopi dalam sebuah cangkir. Ah, memang beda dari biasanya.

Aku termenung, menyadari bahwa waktu telah banyak berlalu. Sekeping kenangan tetiba terlintas dalam benakku tentang seorang gadis dalam bingkai hujan.  Aku terduduk dibawah naungan awan, tak peduli peluru langit berkali-kali menghujam tubuhku. Aku hanya bisa terdiam di balik serpihan rindu yang kian buram.

Sesaat setelah aku menundukkan wajahku dalam kepiluan, terasa hujan berhenti seketika itu juga. Aku memalingkan wajahku, kulihat sepintas seorang gadis berdiri tepat disampingku. Buraian senyum berseri sejenak terpenjara dalam tatapku, sebelum aku benar-benar kembali tenggelam, kembali menundukkan wajahku dalam kesedihan yang teramat.

"Ambillah payung ini untuk melindungimu dari terpaan hujan..!", katamu seraya mengulurkan payung dalam genggaman tanganmu.

Aku tetap saja menghiraukannya, bahkan untuk sekadar memalingkan wajah pun terasa berat. Hingga akhirnya kusadari ia sudah duduk disampingku, dalam dengan payung yang masih tergenggam dalam tangannya, menaungi kami berdua. Kini aku memandangnya dengan penuh tatapan hampa, tapi selalu saja ia membalas dengan senyum yang penuh makna.

"Aku ingin sakit dalam hujan, biarlah air melarutkankuku dalam kesedihan", kataku dengan putus asa.

“Jangannlah kau menjadikan hujan sebagai wujud kesedihanmu, berbahagialah karena datangnya hujan”

“Kini aku sudah kehilangan jiwaku dalam balutan hujan, kehilangan hatiku dalam risaunya awan”, kataku sesaat setelah kembali menundukkan wajahku.

“Hujan adalah anugerah dari yang dilangit untuk semua makhluk yang di bumi. Hujan selalu mengajarkan betapa sangat berharganya ia, hujan mengajarkan sebuah harapan, sebuah kerinduan. Lihatlah disekelilingmu, bagaimana ranting dan dahan menari menyambut datangnya hujan, melahirkan harapan untuk tetap hidup, sebuah kerinduan untuk tetap bahagia”,

Aku masih saja terdiam cukup lama, mencoba mengerti setiap kata yang keluar dari bibir manisnya, sampai akhirnya angin kecil membelah diamku. Iapun pasrah ketika sang angin membawa pergi payung yang menaungi kami, ia kembali tersenyum dan menyandarkan dirinya ke bahuku. Aku menoleh pelan, namun ia hanya membalas denga senyuman.

“Kita adalah kata yang telah usai, usahlah kau bermurung dengan hujan. Kuharap hadirku serupa hujan, dan kaulah ranting dan dahan itu. Nikmatilah hujan bersamaku, bersama ranting dan dahan yang menari, bukan bersama kemuraman dan kesakitan”

Ia melingkarkan tangannya memeluk erat tubuhku, kurasakan kehangatan diantara hujan. Sejenak aku berfikir, mungkinkah ini harapan yang hujan ajarkan padaku? Aku merasakan jiwaku perlahan kembali, Tak sengaja pandanganku berpadu dengan sayu mata yang diiringi senyum yang tak pernah lepas.

***

Kuhirup kembali aroma secangkir kopi pagiku, kunikmati kenangan yang terlintas bersama hujan, tanpa dirinya gadis dalam bingkai hujan. Sejenak kupalingkan pandangku terhadapmu yang masih terpulas dengan senyum tersirat, terlihat sama seperti saat hujan waktu itu. Ah, dasar gadis dalam bingkai hujan, kau memang selalu membuatku mengerti tentang harapan serta kebahagiaan. Dan aku benar-benar merindukanmu.

Yogyakarta, Januari 2017

0 komentar:

Post a Comment

Top Ad 728x90