Top Ad 728x90

Tuesday, 10 February 2015

Pagi

by


Pagi ini, jiwaku sudah mulai usang didera waktu. Sekujur tubuhku kaku, sangat, bahkan tak sempat ku ucapkan sepatah kata dari mulutku. Jiwa yang dulu liar, kini hilang menunggu matinya sepi. Lengkung harapan kini mulai memudar, menanti senja tiada kabar.

10/02/2015

Saturday, 7 February 2015

PENGHANTAR MIMPI

by

Aku selalu menitipkan namamu pada mentari yang menyala menjelang tidurku. Di kala sang Pencipta menggoreskan kuasnya di langit berarak awan diantara langit yang rupawan. Agar kau tahu, bahwa namamu seindah lukisan senja itu, dan aku berharap dirimu selalu menyambutku bersama kembalinya mentari, ketika saja aku terbangun dari mimpiku.

Sunday, 25 January 2015

HATIMU DAN HATIKU

by

Hati ini sudah tak bernyawa lagi, katamu. Pancaran sinar yang keluar darinya pun hampir sekarat. Hanya buraian air mata di balik tawa yang bersembunyi dibalik karangan bunga yang tak sengaja waktu itu kau berikan padaku. Dengan tegak kau berdiri disana, membakar segala kenangan dengan kebencian yang merebak. Entah apa yang terjadi padamu, aku tak pernah tahu.

Tuesday, 13 January 2015

Aku dan Hujan

by


Suatu ketika pernah kita duduk berdampingan ketika menunggu hujan yang tak kunjung reda. Bak ribuan peluru yang menghantam, butir-butir air itu tak henti-hentinya menghujani sebuah rindu yang kerontang. Bau tanah yang basah itu samar-samar menghanyutkanku dalam perasaan yang semakin dalam. Perasaan yang begitu absurd, berpadu dengan tatapan kosong tanpa harapan.
Sejenak kau mengulurkan tangan, menengadah untuk mengumpulkan rintik air di antara lekukan telapak tanganmu yang begitu mungil.
"Hujan...", katamu dengan lirih.
"Ya, bukankah mereka menemani kita sejak tadi", jawabku dengan sedikit muram.
"Ah, kau ini. Dirimu tak pernah memahami kehidupan, tak pernah mau belajar dari alam".
"Maksudmu...?", tanyaku dengan bingung.
"Sungguh ada makna dibalik hujan. Lihatlah betapa ikhlasnya hujan. Ia rela kemanapun diutus, ia akan tetap mengalir dan memberikan kehidupan, dan akhirnya ia akan kembali ke tempat ia berasal."
"Aku mulai tak mengerti apa yang kau bicarakan..."
"Jikalau hujan saja ingin memberi manfaat kepada setiap makhluk, memberikan kehidupan, apalagi manusia.? Janganlah kau bermuram, belajarlah dari hujan."
Aku mengarahkan pandanganku padanmu, dan tak lama kaupun mebalas dengan sedikit senyum.
"Manusia serupa hujan, Ia harus tetap mengalir dan bermanfaat bagi orang lain, Ikhlas, tapi tak lupa darimana ia berasal. Janganlah kau sesali datangnya hujan, tapi bahagialah karenanya"
Sejenak aku terdiam mendengar perkataanmu itu. Kuulurkan tanganku mengikuti tanganmu yang sedari tadi mengumpulkan butir-butir kehidupan itu. Ku nikmati dan kurasakan kehidupan yang berkumpul dalam telapak tanganku itu, sejuk memang. dan mungkin itulah buah keikhlasan yang dapat aku rasakan untuk saat ini.
Diantara Hujan dan Air Mata Kehidupan

13 Januari 2013


Monday, 12 January 2015

[Masih] Galau Karenamu

by

Belum sempat aku menceritakan indahnya purnama kepadamu, hatimu tertutup lebih cepat daripada awan yang menutupi purnama itu sendiri. Banyak orang tak ingin melewatkan purnama itu, tak terkecuali aku. Bulan yang dengan begitu terangnya menari di langit, tiba-tiba menjadi gelap segelap hatimu. Segera aku menoleh kepadamu untuk bercerita, namun ternyata engkau mendahuluiku untuk berbicara.
"janganlah engkau menceritakan keindahan yang kau lihat tadi, kau tak melihat apa yang ada dibalik itu semua. Cobalah kau lihat kembali, betapa ikhlasnya langit yang rela menjadi gelap hanya untuk menjadikan bulan lebih terang dan indah, pernahkah engkau memujinya?"
"tidak...", jawabku
"seperti itulah, bahwa yang menjadikan keindahan itu adalah keikhlasan. Setiap kau menjalani apapun dengan ikhlas, maka keindahan yang akan engkau dapat..."

Semenjak itulah aku menyadari, walaupun hatimu tertutup seperti purnama itu, namun masih saja terlihat menawan. Bahkan melebihi purnama yang begitu terang.

Tuesday, 6 January 2015

#MANUSIA BODOH

by

Aku cukup senang untuk malam ni, bukan karena hati yang dirundung kebahagiaan, namun masih ada yang menemani hari-hariku sebelum aku memejamkan mata. Malam. Ya, malam yang setia menunggu dan tak mau beranjak sebelum aku melempar jiwa ke dalam lautan mimpi yang indah. Yang menenangkan dengan sunyinya, hanya ada beberapa suara yang semakin membawaku untuk sejenak meninggalkan kehidupan nyata.

Monday, 22 December 2014

RINDU

by

Sungguh suatu nikmat yang luar biasa ketika Tuhan menghadiahkan kepada hati kita masing-masing sebuah rindu. Sebuah kado kecil yang hampir tak ternilai harganya, yang selalu mengingatkan kita kepada Sang Maha Pencipta. Yang mengajarkan kita, bahwa muara Rindu adalah Sang Maha Cinta.

Jikalau rindu bukan bermuara dari Sang Maha Cinta, dengan air mata mana lagi kau basuh luka yang menganga? Ataukah dengan deretan indah kata yang dirangkai pujangga? Yang ada hanya luka yang semakin dalam, yang kemudian menenggelamkan kita dalam kesedihan.

Tanpa keagungan-Nya, tak mungkin kita mampu menyulam hati yang gersang menunggu hujan. Tak mungkin kita merasakan desir angin yang menyapa pengunungan, yang menyampaikan salamnya melaui riuh nyanyian ribuan pinus. Begitulah kasihn-Nya kepada kita, mengalir lembut, damai dan tenang sekaligus menyejukkan.

Mereka yang bijak mengatakan bahwa hakikat cinta sejati adalah melepaskan. Maka cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku. Bukankah masih ada do’a yang terperanjat dalam diam? Do’a dimana selalu terselip sebuah nama ketika dalam keheningan kupanjatkan. Do’a yang akhirnya bermuara kepada Sang Maha Cinta.

Pernah aku mendengar Lantunan ayat Seorang sahabat, “Fa biayyi ala irobbikuma tukadzdziban”. Maka Nikmat Tuhan yang Manakah yang Kamu Dustakan? Bukankah Rindu itu adalah sebuah Nikmat yang tak seharusnya kita dustakan di mana ia Bermuara? Semoga kelak, Syahdu ayat ini mengiringi sebuah do’a suci yang menggabungkan dua keluarga dalam satu ikatan.

Yogyakarta, 22 Desember 2014


Monday, 15 December 2014

RINDU MALAM

by

Malam, aku rindu ketika bintang-bintang hadir bersamamu menemuiku. Terlebih ketika beberapa kali awan merebutnya darimu. Maaf, karena aku selalu merindukanmu bersama bintang. Bahkan ketika bulan purnama cemburu kepada bintang untuk bersamamu. Malam aku ingin bertanya padamu, masih adakah hati yang berhembus bersama angin kemudian hinggap kepada pemilik rindu? Aku tahu, aku hanya pemilik rindu yang mengharapkan hati itu. Tak mampu rasanya aku menahan hujam rindu yang tajam. Malam, bolehkah aku bercerita tentang besarnya rinduku tentang seseorang? Tentang senyum manis yang selalu merekah dari wajahnya? Ingin sekali aku untuk menggambarkan indah wajahnya pada langit, agar ia mengerti betapa lebih indah ajahnya daripada bintang yang menemaninya.


Top Ad 728x90